oleh

Diminta jadi atlet Sulteng, ini tanggapan Aspar Jaelolo.

Jakarta-TrueStory-Aspar Jaelolo menanggapi terkait rencana Federasi Indonesia () Sulawesi Tengah (Sulteng) memulangkan dirinya untuk menjadi di wilayah itu.

Dihubungi melalui sambungan telfon, Minggu 30/01, pria kelahiran Wani, 24 Januari 1988 itu mengatakan, Sulteng memang telah berkomunikasi dengannya terkait hal tersebut.

“Ia sudah ada, tapi masih komunikasi biasa saja,” ungkapnya.

Pria yang disapa Babon itu menjelaskan, terkait kepindahan, tentunya ada mekanisme yang harus dilewati dan bukan wewenangnya untuk menentukan iya atau tidak.

“Siapa yang tidak mau bela daerah sendiri, tapi tentunya saya harus kasi tau dulu pengurus di DKI juga, makanya saya belum ada juga sampaikan di media atau media sosialku soal komunikasinya FPTI Sulteng,” terang Aspar.

Ia mengaku, saat ini masih fokus latihan untuk membela Indonesia dalam yang akan dilaksanakan di Paris tahun 2024 mendatang.

“Ia masih fokus ke di Paris ini, TCnya di Jakarta,” pungkasnya.

Selain itu, Babon juga berencana akan pensiun dari panjat dinding di tahun 2024 mendatang. Ia berharap, hasil laga Olimpiade tersebut bisa memuaskan, sebelum dirinya pensiun.

“Semoga pensiunnya manis di olimpiade ini,” harapnya.

Sebelumnya, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Sulawesi Tengah berencana akan memulangkan Aspar Jaelolo, salah satu atlet kelahiran Sulteng yang saat ini menjadi atlet di FPTI Jakarta dan atlet andalan Indonesia.

Hal itu diungkapkan oleh H.Nanang, Ketua FPTI Sulteng. Menurutnya, FPTI sudah berkomunikasi dengan Aspar Jaelolo terkait hal tersebut.

Tidak hanya itu, saat ini FPTI Sulteng juga mendata sejumlah atlet panjat kelahiran Sulteng yang membela sejumlah daerah lain.

“Kami mendata sekitar lima atlet. Yang dipulangkan itu yang berpotensi mendapatkan emas dan memang sudah berprestasi,”ungkapnya.

Aspar Jaelolo merupakan atlet panjat yang menjadi andalan Timnas Indonesia diajang internasional. Pria yang dijuluki Babon itu juga beberapa kali menyabet emas dalam kejuaraan panjat tebing internasional.

Prestasi atlet kelahiran Wani, Kabupaten Donggala 24 Januari 1988 itu adalah menjadi juara dunia dengan berdiri di podium tertinggi kategori speed dalam Climbing World Cup di Wujiang, Cina, 2018 lalu.

Berikan Komentar Anda

Story