Truestory – Ketua Komisi-IV DPRD Provinsi Sulteng Alimuddin Pa'ada, mewakili Ketua menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan seminar legislasi nasional pada kongres Forum Sema Tarbiyah () PTKIN ke-II Se-Indonesia di Gedung Madinah Wisma Haji Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Senin, (10/10/2022).

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Mahasiswa Universitas Islam Negeri () Datokarama Palu dengan mengusung tema “Peran Legislatif Dalam Mewujudkan Moderasi Beragama Guna Menangkal Paham Radikalisme”

Dalam pemaparannya Alimuddin Pa'ada menyampaikan paham radikalisme merupakan suatau aliran yang menganut pemahaman-pemahaman yang sangat keras. Sehingga seringkali bagi mereka yang menganut pemahaman ini menganggap dirinya paling benar dan menganggap pemahaman yang lain itu salah.

“Sampai saat ini paham radikalisme sangat dilarang keras di Negara Indonesia. Jangan sampai kita terjerumus kedalam paham tersebut,” kata Alimuddin.

Menurutnya, peran mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah, keluarga, lingkungan hidup, dan semua elemen masyarakat sangatlah berperan penting dalam mencegah masuknya penyebaran paham radikalisme ini kedalam diri kita dan juga kepada sanak keluarga.

Untuk itu, Alimuddin Pa'ada juga berpesan kepada mahasiswa agar tidak mudah menilai buruk terhadap sesama. Sebagai contoh, ketika melihat sekelompok warga masyarakat sedang melakukan suatu kegiatan kajian-kajian agama atau semacamnya, janganlah kita langsung mengambil keputusan bahwa mereka sudah menganut paham radikalisme.

Namun, kata dia, yang perlu dilakukan adalah menelusuri secara mendalam terlebih dahulu dengan pendekatan secara persuasif, dan lain sebagainya. Diperlukan ilmu pengetahuan yang mendasar untuk mengetahui bagaimana bentuk paham radikalisme itu dan bagaimana ciri-ciri seseorang atau suatu kelompok yang menganut paham radikalisme.

Selain itu, Alimuddin Paada juga mengigatkan kepada para mahasiswa agar dalam melakuan suatu pengkajian terhadap suatu pemaham atau mempelajari suatu bidang keilmuan diharapkan selalu mawas diri. Selalu terbuka kepada sesama dan banyak bertanya kepada para ulama, kiyai, ustad, tokoh-tokoh masyarakat yang lebih memahami hal tersebut.

“Hal itu dilakukan guna mencegah terseretnya kedalam paham radikalisme,” terangnya.

Ditempat yang sama, Kasubdit-IV Ditintelkam Polda Sulteng Kompol Syafruddin, menyampaikan bahwa paham radikalisme adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

Syafruddin mengatakan, umat agama apapun bisa terpapar paham radikalisme. Akan tetapi paham radikalisme tidak ada hubungannya dengan agama manapun. Ia menguraikan ada beberapa jenis atau cara penyebaran paham-paham radikalisme diantaranya melalui :

1. Melalui Gerakan Ceramah yang menyebarkan paham dimasyarakat dengan ciri intoleran terhadap perbedaan, serta menyalahkan atau mengkafirkan praktek keyakinan agama lain dan menjelekkan kelompok yang tidak sepaham dengan mereka.

2. Melalui Gerakan Politik, gerakan ini dicirikan dengan keinginan mengganti ideologi negara dengan menegakkan negara islam atau yang disebut khilafah atau semacamnya, serta menolak sistem demokrasi dan Pancasila.

3. Kelompk Teroris, gerakan ini dicirikan dengan tindakan kekerasan dalam melaksanakan pandangan dan pemikirannya yang radikal. Serta megabsahkan kekerasan dan pembunuhan terhadap orang lain yang berbeda atas nama agama dan menghalalkan darah orang lain berbeda keyakinan dengan mereka dan menganggap bahwa yang dilakukan itu suatu tindakan yang baik dan suci.