Banggai, True Story – PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF) meraih penghargaan tertinggi kategori Grand Prize dalam ajang 11th International Exhibition of Inventions (IEI) di Guangzhou, China, pada 24 Agustus 2025.
Penghargaan tersebut diperoleh melalui inovasi bertajuk Biotechnological Advances in Organic Fertilizers Utilizing Biosulfur Side Products for Sustainable Agriculture yang mengolah produk samping operasi menjadi pupuk organik untuk mendukung program ketahanan pangan berkelanjutan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
General Manager Zona 13, Andry, mengatakan inovasi ini lahir dari komitmen perusahaan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Melalui inovasi ini, kami bertanggung jawab terhadap produk samping operasi yang kami hasilkan agar bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Dukungan masyarakat Desa Kayowa menjadi kunci keberhasilan inovasi ini hingga mendapat penghargaan tertinggi di ajang IEI 2025,” ujarnya di Guangzhou.
Program yang dikembangkan sejak 2024 tersebut memanfaatkan produk samping biosulfur slurry untuk menghasilkan pupuk organik ramah lingkungan, yang dikenal dengan nama Bioferdom. Saat ini, pupuk tersebut telah digunakan pada 30 hektare lahan jagung milik Kelompok Tani Kasawo Jaya di Desa Kayowa, Kecamatan Batui.
Hasil implementasi program menunjukkan dampak positif. Secara lingkungan, program ini mampu mengurangi timbulan biosulfur sebesar 127,6 ton per tahun serta meningkatkan produktivitas pertanian hingga 57 persen. Dari sisi ekonomi, penggunaan pupuk Bioferdom memberikan efisiensi biaya pertanian sebesar Rp4 juta per orang per musim dan meningkatkan nilai jual hasil pertanian hingga Rp18 juta per hektare per musim.
“Selain mengatasi kelangkaan pupuk, Bioferdom mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya terkait pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan produksi bertanggung jawab, penanganan perubahan iklim, serta ekosistem daratan,” kata Field Manager Donggi Matindok, Ridwan Kiay Demak.
Selain pemanfaatan pupuk, PEP DMF juga menggagas Sekolah Lapang Pertanian Mosa’angu bersama Sircular Center Indonesia (SCI) untuk meningkatkan kapasitas petani melalui metode pembelajaran non-formal di lapangan. Kepala Desa Kayowa, Ali Dg Marowa, menyambut baik inisiatif tersebut karena membantu petani beradaptasi dengan tantangan iklim dan lingkungan.
“Petani selama ini mengandalkan naluri turun temurun, sementara tantangan saat ini membutuhkan ilmu formal. Dengan adanya sekolah lapang, petani kami bisa tetap produktif meski menghadapi berbagai masalah pertanian,” ujar Ali.
Tenaga pendamping SCI, Muh. Syair, menambahkan pihaknya berkomitmen melanjutkan pendampingan bagi petani, baik melalui kegiatan di kantor desa maupun mendekat ke lahan pertanian. “Petani bukan sekadar profesi, tapi penyangga kehidupan. Karena itu, kami menabur ilmu sekaligus harapan untuk perubahan,” katanya.