oleh

Wahyu DKK, dibalik aksi mahasiswa tolak BBM di Palu

Laporan : Erel /

Ribuan dari berbagai Universitas di , Sulawesi Tengah turun ke jalan, Selasa 06/09/2022. Naiknya harga Bahan Bakar Minyak () jadi alasan. Ban bekas dibakar, aparat keamanan bersenjata lengkap berjaga.

Jalan Samratulangi Palu, depan sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Tengah jadi titik kumpul . “Turunkan harga , Turunkan harga ,” teriak sejumlah mahasiswa.

Ba'da dzuhur hingga mendekati shalat Magrib aksi tak kunjung selesai. Mahasiswa ingin masuk ke dalam sekretariat DPRD Provinsi Sulteng. Polisi jadi barikadenya. Sejumlah opsi disampaikan. Tapi mahasiswa tetap menolak. Tuntutanya, unsur pimpinan DPRD harus hadir di tengah tengah mereka atau mereka diberikan akses masuk ke dalam.

“Buka buka buka buka,” teriak mahasiswa.

Beberapa kali, saling dorong antara Polisi dan Mahasiswa terjadi. Beruntung, tak berujung ricuh. Aksi itu berakhir dengan janji, mahasiswa akan diikut sertakan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama anggota DPRD Provinsi Sulteng. Salah satu anggota DPRD  juga  telah menemui mahasiswa.

“Tabe tabee, permisi, sampahnya kak, sampahnya kak, buang disini,” ucap seorang Mahasiswa yang berkeliling di kerumunan massa aksi.

Ditangannya terdapat sebuah karung dan kardus bekas. Itu dipakai untuk tempat sampah yang ada diareal aksi demonstrasi.

“Namaku Wahyu, Jurusan Fisip, Universitas Tadulako, iyaa jurusan komunikasi 2021,” begitu dia memperkenalkan diri.

“Iya, kita kumpul sampah yang ada disini, nanti sampah ini kita kasi ke pemulung,” sambungnya.

Yaa,, Wahyu adalah salah satu dari mahasiswa yang mencoba tetap menjaga kebersihan walaupun saat aksi demonstrasi.

“Kalau untuk ide pungut sampah itu datang dari kesadaran pribadinya kami, tentang permasalahan sampah yang ada di Palu yang tidak terolah dengan baik. Terys awalnya kami itu hanya ingin datang sebagai tim yang bawa air minum Refill untuk mahasiswa tapi saat kami turun di lapangan rupanya sampah berserakan di mana mana dan itu yang dorong kami bahwa harus ada yang peduli sama sampah,” cerita Wahyu.

Menurutnya, bentuk mendukung aksi mahasiswa dalam memperjuangkan hak rakyat, ia dan kawan kawannya membentuk “Relawan Air”

“Itu kami gabungan dri macam macam latar belakang ada yang dari kampus lain ada yang bahkan sudah tidak kuliah. Intinya Torang itu hanya orang yang baku teman punya keresahan masalah isu yang sama dengan yang di demokan tapi ingin membantu juga dengan cara beri mereka air minum gratis,” sambungnya.

“Kalau untuk bersih bersih itu krna kitorang konsen masalah sampah plastik dan isu lingkungan itu yang buat kami putuskan pungut sampah,” tambahnya.

Berikan Komentar Anda

Story