,.id – Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di dan memicu gelombang protes warga terhadap aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap () batubara di industri nikel.

Pencemaran udara akibat abu batubara yang menyelimuti permukiman disebut sebagai pemicu utama krisis kesehatan ini.

Ketua Serikat SBIPE, Akbar, mengungkapkan data Dinas Kesehatan Provinsi yang mencatat peningkatan kasus ISPA dari 262.160 kasus (2023) menjadi 305.191 kasus pada 2024. Morowali menyumbang angka tertinggi, yakni 57.190 kasus.

“Asap dan debu dari cerobong captive perusahaan nikel jadi penyebab utama,” ujar Akbar.

Terdapat empat industri nikel besar yang mengoperasikan PLTU sendiri, termasuk PT Transon, PT Wangxiang, dan PT COR. Sejak 2023, warga mulai menyuarakan penolakan.

Di Dusun Kurisa, warga sudah empat kali mendatangi kantor PT IMIP menuntut penghentian abu batubara yang masuk ke rumah mereka, namun belum digubris.

Puncak protes terjadi 2024, saat warga Labota memblokir akses PLTU IMIP. Aksi serupa dilakukan di Topogaro dan Tondo terhadap hauling milik PT IHIP. Mereka menolak zonasi radius PLTU yang bisa menggusur pemukiman.

Sebagai bentuk kampanye kreatif, Koalisi Sulawesi Tanpa Polusi bersama SBIPE dan Evergreen Indonesia menggelar aksi teatrikal di pusat Morowali.

Aksi ini mengangkat penderitaan warga dan menyerukan solidaritas publik menghadapi polusi industri. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari perusahaan maupun pemerintah.