Palu,truestory.id — Tumpukan sampah kiriman kembali mencemari kawasan konservasi mangrove Pantai Dupa, Kelurahan Layana, dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini terlihat sejak 3 hingga 5 hari terakhir akibat perubahan pola angin dan arus laut yang membawa berbagai jenis sampah ke pesisir.
Pantauan di lapangan memperlihatkan dominasi sampah plastik rumah tangga, kemasan sekali pakai, botol plastik, limbah kayu, hingga sampah organik laut.
Selain merusak estetika pantai, sampah tersebut mengancam ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai habitat biota laut sekaligus pelindung kawasan pesisir dari abrasi.
Menanggapi situasi itu, sejumlah pihak langsung turun tangan. NGO Mangrovers berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah, DLH Kota Palu, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah, Kelurahan Layana, serta masyarakat sekitar dalam aksi bersih pantai pada Kamis siang.
Perwakilan Mangrovers menyebut aksi tersebut bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari upaya perlindungan ekosistem mangrove yang rentan terhadap aktivitas manusia dan pencemaran laut.
“Kami ingin menjaga fungsi mangrove tetap stabil, karena kawasan ini penting bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Plt. Kepala DLH Provinsi Sulawesi Tengah, Muchlis, juga menekankan pentingnya kerja bersama dalam menangani persoalan sampah laut. Menurut dia, sampah kiriman bersifat lintas wilayah sehingga membutuhkan sinergi antarinstansi.
Dalam aksi itu, relawan, komunitas, dan warga setempat mengumpulkan sampah dari area pesisir kemudian menyerahkannya kepada armada DLH Kota Palu untuk dibawa ke TPA. Seluruh pihak berkomitmen melanjutkan aksi serupa secara berkala.
Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, turut memberi perhatian dan meminta DLH Kota Palu segera mengatasi tumpukan sampah kiriman tersebut.