PALU, TRUESTORY — Sebanyak 15 WNA Filipina terdampar di perairan Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, tiba di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu untuk menjalani karantina pada Minggu (25/1). Mereka mengalami ombak besar saat pulang dari Sabah, Malaysia. Pihak Imigrasi penuhi kebutuhan hidup mereka sembari lakukan pendataan.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Muh Akmal, menjelaskan proses karantina ini untuk gabungkan pengambilan keterangan mendalam. Belasan WNA tersebut menunggu kedatangan konsulat Filipina untuk cocokkan data kewarganegaraan. Sementara itu, proses deportasi jadi tanggung jawab konsulat setelah selesai penyesuaian administrasi.
Muh Akmal, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu mengungkapkan rencana pemulangan dimulai dari pengambilan keterangan selama masa karantina.
“Jadi rencana pemulangannya awalnya kita dulu harus ambil keterangan, karantina nya sambil ambil keterangan. Terus kita BAP, apakah betul-betul semua warga negara Filipin atau orang Malaysia yang pinter bahasa Filipin. Dan kami segera mungkin akan melakukan koordinasi dengan pihak konsulat bisa secepatnya dipulangkan ke negara asalnya,” kata Muh Akmal.
Salah satu WNA Filipina menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan warga dan pihak Imigrasi Palu. Ia menceritakan pengalaman mengerikan bersama keluarganya. Mereka terombang-ambing di laut selama 13 hari sebelum diselamatkan.
WNA tersebut juga mengungkapkan bagaimana mereka bertahan hidup dari sisa makanan yang minim.
“Selama kami tiga belas hari di laut, ada kami dapat satu bungkus yang namanya biskuit, aku tidak makan, budak-budak (anak-anak) saja, dan satu biji di bagi dua orang, supaya makan semua budak-budak,” kata salah satu WNA Filipina di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu. Bahkan menurutnya, mereka terpaksa minum air laut untuk bertahan.
Sebelumnya, 15 WNA Filipina ini berlayar pulang ke Filipina dari wilayah Sampurna, Sabah, Malaysia. Mereka bekerja di sana sebagai pekerja. Namun, perahu yang mereka tumpangi rusak akibat hantaman ombak besar di perairan Buol. Akhirnya, otoritas setempat selamatkan mereka setelah laporan warga.
Pihak Imigrasi pastikan seluruh kebutuhan hidup para WNA terpenuhi selama karantina. Koordinasi dengan Kedutaan Besar Filipina di Jakarta lanjutkan secepat mungkin. Meskipun begitu, proses verifikasi identitas tetap prioritas utama untuk hindari kesalahan deportasi. Saat ini, kondisi kesehatan mereka stabil setelah penanganan awal.
Kejadian ini tunjukkan tantangan nelayan dan pekerja migran di perairan Sulawesi Tengah. Selain itu, respons cepat Imigrasi Palu perkuat penanganan kasus serupa di masa depan. Warga Buol berperan besar dalam penyelamatan awal.*/ALF