Parigi, Truestory— Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kabupaten Parigi Moutong mayoritas dipicu oleh aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat, diperparah oleh kondisi cuaca panas dan kekeringan yang telah berlangsung lebih dari satu bulan.
Plt Kepala Pelaksana
BPBD Sulawesi Tengah, Asbudianto, mengungkapkan bahwa sebagian besar kebakaran, khususnya di area kebun, berawal dari pembakaran lahan yang kemudian tidak terkendali.
“Ada beberapa titik kebakaran yang diawali pembakaran lahan. Selain itu, ada juga yang terbakar secara alamiah di padang-padang kering,” ujarnya, Selasa (3/2).
Kondisi tersebut semakin diperburuk dengan minimnya curah hujan di wilayah Pantai Barat Sulawesi Tengah.
Berdasarkan hasil koordinasi dengan BMKG, kekeringan diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Februari 2026.
“Sudah lebih dari satu bulan tidak turun hujan. Dampaknya bukan hanya kebakaran, tetapi juga kekurangan air,” kata Asbudianto.
Ia menyebutkan, wilayah Parigi Utara dan Sikatan Kota telah mengalami kekeringan, sementara di Lambunu kekeringan bahkan berdampak pada lahan sawah milik warga.
Dalam menghadapi kondisi ini, BPBD Sulteng terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Parigi Moutong, serta melibatkan unsur TNI, Polri, Satpol PP, dan aparat desa untuk melakukan pengawasan dan pemadaman dini.
Pemerintah daerah kembali mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar serta tetap waspada terhadap potensi kebakaran selama musim kering berlangsung. (*)