– Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mendorong generasi muda khususnya remaja di agar gencar melakukan kampanye pencegahan .

Hal ini disampaikan Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Alimuddin Paada berdasarkan hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 yang menyebutkan angka prevalensi di Indonesia sebesar 21,6 persen. Sedangkan untuk wilayah lebih tinggi dari angka nasional yaitu 28,2 persen.

“Pemerintah daerah bersama seluruh masyarakat sulteng khususnya para remaja berperan lebih aktif dan bekerja lebih keras lagi dalam hal penurunan angka stunting,” jelas Alimuddin pada kegiatan Gerakan Remaja Peduli Stunting di salah satu hotel di , Selasa (14/03/2023).

Kata Alimuddin, pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab bagi para orangtua atau pasangan yang sudah menikah. Menurutnya, remaja pun memilki peran yang cukup penting dalam mencegah stunting melalui inovasi-inovasi dan kreativitasnya.

“Karena menikah pada usia dini merupakan penyumbang terbesar naiknya angka prevalensi stunting, olehnya mari bersama-sama cegah terjadinya pernikahan pada anak usia dini,” tuturnya.

Kepala Dinas P2KB Provinsi Sulteng Tuty Zarfiana menyampaikan saat ini Sulteng masuk tujuh besar angka prevalensi stunting tertinggi di Indonesia.

Maka berdasarkan instruksi dan amanat presiden bahwa pada di tahun 2024 mendatang, Provinsi Sulteng harus mampu menurunkan angka stunting menjadi 14 persen.

“Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Provinsi Sulteng untuk bisa mencapai target tersebut,” sebutnya.

Kata Tuty ada 250 remaja peduli stunting yang mengikuti kegiatan tersebut dan setiap anak akan menginformasikan kepada 25 temannya.

“Maka dipastikan ada sekitar 6000 anak akan mendapatkan informasi bagaimana mencegah stunting dan pernikahan anak dibawah umur atau usia dini,” terangnya.