TrueStory- Nelayan di Teluk Palu dihebohkan oleh kemunculan ubur-ubur berwarna ungu di pinggiran pantai selama seminggu terakhir.
Menurut seorang nelayan setempat, Eko Dwi, hewan laut yang terdampar di pantai tersebut kemungkinan terbawa ombak dari laut dalam. Ini adalah kali pertama ia melihat ubur-ubur ungu yang berukuran besar dan kecil.
“Kemungkinan akibat perubahan cuaca, dimana sejak bulan Desember 2022 hingga saat ini masih angina barat, jadi kemungkinan terbawa oleh ombak, kesini,”katanya.
Sayangnya, hingga saat ini belum ada upaya dari pemerintah untuk mengevakuasi hewan-hewan tersebut meskipun mereka terlihat masih hidup dan terdampar di sekitar tambatan perahu nelayan di Kelurahan Talise.
Sementara Pengelola ekosistem laut dan pesisir dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng, Nur Masita, menjelaskan bahwa kondisi lingkungan perairan seperti suhu air, arus, dan sampah yang terbawa oleh arus permukaan dapat mempengaruhi migrasi jalur ubur-ubur.
Hal ini dapat menjadi alasan mengapa ubur-ubur ungu tersebut terdampar di pantai Teluk Palu. “Selain itu suhu perairan, pergerakan masa air laut dan arus juga,”ungkapnya.
Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah telah memperingatkan masyarakat setempat untuk tidak menyentuh ubur-ubur ungu yang ditemukan di Teluk Palu. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya iritasi kulit atau bahkan luka yang lebih parah pada orang yang menyentuhnya.
Menurut Nur Masita, ubur-ubur ungu yang ditemukan di Teluk Palu dapat menimbulkan bahaya pada manusia. Ia menjelaskan bahwa ubur-ubur ungu tersebut mengandung tentakel atau “tangan” yang dilengkapi dengan sengat beracun yang dapat menyebabkan luka pada kulit manusia.
Oleh karena itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng meminta kepada masyarakat setempat agar tidak menyentuh ubur-ubur ungu tersebut jika menemukannya di sekitar Teluk Palu.
“Kami berharapagar warga tidak kontak langsung atau memegang ubur-ubur ungu, dikarenakan dapat menimbulkan gatal-gatal. Hewan laut ini ini bisa mngeluarkan toksin (zat racun),” kata Nur Masita.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.