Palu, truestory- Puluhan masyarakat yang tergabung dalam koalisi Petisi Palu-Donggala yang menggelar aksi disertai dengan bagi-bagi Masker untuk antisipasi debu, Selasa (21/5/2024) di Kelurahan Buluri Kecamatan Ulujadi, kota Palu.
Dikarenakan banyaknya debu yang diakibatkan oleh aktivitas Pertambangan galian C, khususnya penambangan batuan, telah merusak lingkungan dan mengancam kualitas hidup penduduk setempat.
Warga Keluahan Buluri, dan selaku wakil Koordinator Lapangan aksi, Arman Seli menyampaikan keresahan warga terakit dengan debu yang ada di pesisir Palu-Donggala.
“Secara pribadi saya juga membuat petisi Palu-Donggala, saya sebagai warga juga resah,”ungkapnya.

yang melintasi daerah pertambangan. Foto.ONO
Dampak nyata dari adanya aktivitas tambang galian C adalah udara yang tidak lagi bersih, kemudian sudah ada warga yang menderita penyakit Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Kalau total warga yang sudah terdampak ISPA dari data pihak tenaga kesehatan terus mengalami peningkatan, sejak tahun 2022 sampai di tahun 2023 sudah ada 700 orang, kalau sampai sekarang sudah lebih,”tambahnya.
Minta Pemerintah Evaluasi Aktivitas Tambang
Direktur JATAM Sulteng Moh.Taufik meminta agar pemerintah dapat mengevaluasi seluruh kegiatan tambang yang ada disepanjang pesisir Palu-Donggala, sebab berdampak kepada masyarakat lingkar tambang.
“Bukan hanya warga lingkar tambang tetapi warga yang melintas jalan Palu-Donggala juga terkena dampak akibat debu,”ujarnya.

yang ada di Kelurahan Buluri,Kecamatan Ulujadi,Kota Palu. Foto.ONO
Sebab apa yang diwacanakan bahwa daerah ini menjadi penyumbang terbesar material ke Ibu Kota Negara nusantara, namun dengan memberikan dampak kepada masyarakat. “Kami menilai bahwa aktivitas meningkat saat adanya IKN,”tegas Taufik.
Hal itu berkaitan dengan adanya peningkatan pemberian izin pertambangan karena dari tahun 2019 ada 20 izin dan sekarang ada 30 izin khusus kota Palu, kemudian untuk Kabupaten Donggala secara keseluruhan ada 54 izin usaha tambang pasir dan batuan.
“Semua berstatus IUP operasi produksi,”tambahnya.
Taufik menerangkan bahwa data JATAM setiap tahunnya sebanyak 200 warga terpapar penyakit ISPA, kemudian faktor ekonomi seperti Nelayan mengalami penurunan tangkap ikan yang disebabkan dari pembangunan pelabuhan kapal tongkang mandiri milik perushaan.
“Yang paling dikeluhkan oleh masyarakat berkaitan dengan masalah kesehatan,”tutupnya.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.