Morut, TRUE STORY – Komunitas Generasi Wita Mori, atau KGWM, menggelar pertemuan penting yang menyatukan berbagai etnis, profesi, dan latar belakang di Morowali Utara. Minggu (06/8/2023). Pertemuan ini bertujuan untuk mengembalikan martabat Morowali Utara dan mengatasi berbagai isu yang mengkhawatirkan.
Dalam pertemuan tersebut, Fudin Madjid menyoroti keadaan perusahaan tambang di wilayah tersebut, yang mayoritas direkturnya berasal dari luar daerah.
Ia mengingatkan akan aturan yang mengharuskan perusahaan mendidik putra daerah selama 6 bulan atau setahun sebelum dapat menjabat sebagai direktur.
Selain itu, keprihatinan muncul mengenai dua lembaga adat yang beroperasi saat ini dan perbedaan pandangan mengenai keberkahannya.
Beberapa peserta mengungkapkan bahwa lembaga adat sering dimanfaatkan sebagai alat politik, menyimpang dari tujuan sejatinya dan kehilangan harkatnya.
“Tapi susah juga karena pengamatan kita lembaga adat ini justru dipakai sebagai alat politik dan kepentingan orang perorang. Harkat lembaga adat akhirnya menjado tidak ada. Berbeda sekali dengan lembaga adat di kabupaten tetangga yang sangat di hormati masyarakat karena tidak masuk ranah politik,”katanya.
Kegiatan KGWM juga berfokus pada upaya untuk memulihkan identitas budaya daerah. Pengalaman salah satu peserta yang gagal menemukan bendera Kerajaan Mori saat upacara 17 Agustus menjadi momen yang menegaskan pentingnya menjaga dan menghormati warisan budaya.
Dalam usaha menjawab kegelisahan ini, komunitas KGWM terdiri dari beragam latar belakang dan partai politik, menunjukkan komitmen mereka untuk bekerja bersama tanpa kepentingan politik.
Mereka menginginkan perbaikan dalam susunan kepengurusan dan bidang lainnya, yang didiskusikan dalam pertemuan ketiga KGWM.
“Pertemuan berikutnya susunan kepengurusan kita berharap sudah lengkap, termasuk membicarakan waktu untuk pelantikan. Beberapa kawan yang seharusnya ikut diskusi hari ini berhalangan hadir karena ada yang kecapean baru datang dari kuar Morut dan ada juga yang tengah dirawat karena sakit. Mereka cuma menitipkan salam melalui WA,” ujar Buyung Tempali.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.