SELASA malam, 20 Januari, salah satu sudut kota menjadi ruang pertemuan penuh kenangan dan rasa kehilangan. Di sebuah kafe yang biasanya dipenuhi alunan musik ringan, malam itu panggung berubah menjadi wadah penghormatan untuk seorang musisi yang telah menutup perjalanan hidupnya — Indha M Noor.

Sejumlah musisi, mayoritas berasal dari dan beberapa di antaranya telah malang melintang di industri musik ibu kota, berkumpul untuk menggelar charity sekaligus menyalakan kembali memori tentang almarhum.

Kehadiran figur-figur seperti Abdee Negara dari Slank, Njet The Flower, hingga komunitas musik menunjukkan bahwa sosok Indha bukanlah nama asing. Ia adalah bagian dari ekosistem musik yang kadang luput tercatat, namun selalu punya peran krusial dalam kelahiran karya.

Indha M Noor pada Sabtu siang, 17 Januari. Jenazahnya langsung dimakamkan pada hari yang sama. Pemakaman itu bukan hanya upacara perpisahan, tetapi juga saksi bahwa banyak rekan seprofesi merasa kehilangan.

Sejumlah musisi asal yang tinggal di turut mengiringinya hingga liang lahat. Dari situ, sebuah ide muncul, menggelar pertemuan, bukan sekadar mengenang, tetapi memastikan bahwa tanda jasa seorang musisi tidak hilang begitu saja.

Indha bukan hanya pemain. Ia adalah penggarap ide, komposer, sekaligus penghubung antara talenta lokal dengan industri.

Jejaknya dapat ditemukan di Cozy Republik—band yang merangkai ragam musik alternatif dengan sentuhan khas. Namun kontribusinya tidak berhenti pada satu band.

Pada masa-masa terakhir hidupnya, Indha masih terlibat dalam project mini album sejumlah musisi yang sedang berproses di Jakarta.

Halid, Donny Zharoes, Umar, dan Rudi merupakan empat rekan yang bekerja bersamanya dalam project tersebut. Dalam testimoni singkat, mereka menyebut bahwa peran Indha terasa mewarnai album, bukan hanya dalam bidang teknis, tetapi juga lewat ide-ide musik yang ditawarkannya.

“Kami sangat kehilangan almarhum karena terasa sekali almarhum mewarnai album mini ini. Semoga almarhum husnul khotimah,” ungkap mereka.

Menariknya, satu minggu sebelum meninggal, Indha masih sempat berdiskusi bersama Tony Tombolotutu mengenai royalti musisi. Percakapan itu memperlihatkan betapa kuat komitmen almarhum untuk memperjuangkan hak-hak kreatif pekerja seni—isu yang sering kali luput di atas panggung hiburan.

Bagi sebagian orang, kontribusi terbesar musisi adalah karya yang ia rilis. Tetapi bagi Indha, karya yang bertahan lebih lama adalah musisi-musisi yang berhasil ia dampingi.

Almarhum diketahui berperan aktif menghadirkan trio Topodade, sebuah grup vokal yang sempat menjuarai kompetisi pencarian bakat di salah satu stasiun televisi . Tidak banyak yang sadar bahwa keberhasilan trio tersebut memiliki jejak tangan Indha di belakang layar.

Di industri musik, orang-orang seperti Indha adalah penyangga. Mereka bukan figur yang selalu berada di sorotan panggung, namun dedikasinya mampu mengubah jalan musik seseorang. Dan itulah yang dirasakan para musisi saat menghadirinya malam itu.

Acara charity bertajuk “Kumpul Bersama Musisi: Mengenang Almarhum Indha M Noor” berlangsung hangat. Tidak ada panggung megah, tidak ada produksi besar, tetapi ada keintiman yang tidak bisa dipalsukan. Musisi-musisi hadir bukan untuk tampil, tetapi untuk bercerita—dengan lagu, dengan testimoni, dengan kehadiran.

Daftar yang hadir cukup panjang. Ada Topomore, Topodade, Palu Musician Community, Ote Abadi, Abdee Negara, Njet The Flowers, Massto Sidharta, Conrad Gud Vibration, Tege Dreads, Ferry HK, Rido Tomasouw, Echa Harahap, Nial Bunga, hingga K Island.

Keberagaman genre mereka menunjukkan bahwa Indha menyentuh banyak ruang musik, dari rock hingga reggae, dari komunitas independen hingga industri televisi.

Salah satu musisi, Rival “Pallo” Himran, menyampaikan rasa terima kasih kepada sosok yang telah memfasilitasi tempat acara. “Kami berterima kasih pada Kak Emmy Tobing yang sudah memfasilitasi acara di Wangsa Timoer,” ujarnya. Dukungan semacam itu menunjukkan bahwa acara dengan muatan emosional seperti ini membutuhkan jembatan, dan jembatan itu hadir tepat pada waktunya.

Dalam acara tersebut, charity berlangsung dalam suasana personal. Tidak ada mekanisme formal seperti pelelangan. Para musisi, penonton, dan sahabat hanya mengulurkan donasi seikhlasnya. Hasilnya, malam itu terkumpul lebih dari Rp10 juta dan langsung diserahkan kepada keluarga almarhum. Jumlah itu mungkin bukan angka yang besar secara ekonomi, tetapi memiliki makna simbolik: bentuk penghormatan nyata dari mereka yang pernah bersentuhan dengan karya dan dedikasi Indha.

Banyak musisi di dunia yang namanya besar, namun hanya sedikit yang meninggalkan jejak yang benar-benar dirasakan oleh lingkaran terdekatnya.

Indha M Noor mungkin bukan headline festival atau penghuni tangga lagu , tetapi ia adalah figur yang menunjukkan bahwa pekerjaan musik tidak hanya dilakukan untuk panggung, tetapi untuk manusia.

Dalam dunia yang sering menjadikan popularitas sebagai indikator kesuksesan, kehidupan seorang musisi seperti Indha mengingatkan bahwa yang paling penting adalah kontribusi. Dan kontribusi itu terlihat pada karya, proses, dan talenta yang terus hidup setelah ia pergi.

Selasa malam itu, para musisi pulang tanpa sorotan kamera televisi. Tidak ada publikasi besar, tidak ada sponsor.

Namun ketika lampu kafe dimatikan, musik terakhir dimainkan, dan donasi disalurkan, ada sesuatu yang justru menjadi jelas: Indha M Noor tidak pergi sebagai nama, tetapi sebagai peran. Dan peran itu masih ada—di telinga, di karya, dan di hati mereka yang mengenalnya.