Oleh: Yadi Mulyadi
Di era teknologi informasi ini, begitu mudah kita memperoleh beragam informasi melalui smartphone yang terkoneksi dengan internet. Cukup mengetik kata kunci, misalnya di google atau melalui teknologi yang semakin trend saat ini yaitu aplikasi berbasis artificial intelligent.
Dengan cara ini kita mengetahui, jika mengetik kata Teluk Tomori di google akan muncul banyak pemberitaan Teluk Tomori sebagai destinasi wisata.
Hal ini memperkuat persepsi di masyarakat terkait Teluk Tomori yang identik dengan pariwisata, dan ini memang wajar mengingat Teluk Tomori memang memiliki beragam potensi yang menarik untuk pariwisata.

Teluk Tomori yang secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Morowali Utara, juga dilekatkan dalam istilah geologi yang dikenal dengan nama Cekungan Tomori.
Dalam salah satu artikel yang dipublikasikan di Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Tatang Padmawijaya selaku penulis artikel menyatakan bahwa Cekungan Tomori di daerah Batui Luwuk hingga Teluk Kolonodale terbentuk akibat tumbukan Benua Mikro Banggai Sula dan batuan Ofiolit Sulawesi.
Peristiwa tersebut kemungkinan menjadi penyebab dihasilkannya struktur sesar naik di Cekungan Tomori, daerah Luwuk dan Kolonodale yang bertindak sebagai perangkap struktur hidrokarbon.
Peristiwa geologis ini terjadi jutaan tahun yang lalu, dan hal inilah yang kemudian menjadikan lanskap Teluk Tomori menjadi unik, sebuah teluk yang dikelilingi dan ditaburi gugusan perbukitan karst, pertemuan antara lautan yang biru dan hijaunya mangrove.

Gugusan karst di kawasan ini, menjadi habitat berbagai flora dan fauna yang khas, menambah keanekargaman hayati di perairan Teluk Tomori. Keanekaragam hayati ini merupakan sumber kehidupan bagi manusia, dan menjadikan kawasan ini ideal untuk dihuni.
Bukti hunian masa lalu di kawasan ini untuk sementara telah teridentifikasi berupa situs prasejarah dengan tinggalan berupa gambar cadas di Situs Tebing Batu Putih, Situs Tebing Tapohulu, Situs Tebing Pengia, Situs Tebing Karantu, dan Gua Gililana.
Situs-situs gambar cadas tersebut menjadi salah satu atraksi wisata yang biasa dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke Teluk Tomori.

Keberadaan gambar cadas di kawasan Teluk Tomori ini pertama kali dilaporkan oleh Norman Edwin, arkeolog dari Universitas Indonesia dan pendiri Mapala UI, yang terlibat dalam penelitian “Operation Drake: Indonesia A New Approach To Conservation”.
Operasi Drake (1978–1980) adalah pelayaran keliling dunia yang diikuti oleh anak-anak muda dari berbagai negara, berlayar di atas kapal Eye of the Wind. Kapal ini meninggalkan Plymouth pada bulan Oktober 1978 dan kembali ke London dua tahun kemudian, pada bulan Desember 1980.
Kemudian di tahun 1990, Rustam Semma yang saat itu masih berstatus mahasiswa melakukan penelitian di situs-situs gambar cadas tersebut dalam rangka penyelesaian tugas akhirnya sebagai mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin.
Selain mahasiswa arkeologi, peneliti dari Balai Arkeologi Manado, pernah melakukan survei di kawasan Teluk Tomori pada kurun waktu tahun 2022.
Kemudian pertengahan tahun 2024, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX melaksanakan kegiataan survei untuk pendataan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan menemukan situs baru berupa penguburan pra Islam di ceruk gua, selain temuan lepas berupa fragmen gerabah dan alat batu prasejarah.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Kabupaten Morowali Utara, melakukan kegiatan pelestarian budaya berupa penetapan situs arkeologi menjadi situs cagar budaya.
Pada tahun 2021, Bupati Kabupaten Morowali Utara menetapkan Situs Tebing Batu Putih, Situs Tebing Tapohulu, Situs Tebing Pengia, dan Gua Gililana sebagai Situs Cagar Budaya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Pada tahun 2023 dilakukan kajian pelindungan berupa kajian zonasi cagar budaya Situs Tapohulu, untuk mengoptimalkan pelindungan situs ini, khususnya dari ancaman aktivitas tambang.
Dan saat tulisan ini dibuat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Kabupaten Morowali Utara sementara melakukan kajian Delineasi dan Zonasi Cagar Budaya di kawasan Teluk Tomori, mulai 17 – 26 Oktober 2024.
Tim kajian terdiri dari pamong budaya dan tenaga ahli zonasi cagar budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII, Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah bidang Perlindungan dan Pelestarian, Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kemendikbudristek, arkeolog ahli cagar budaya dari Universitas Hasanuddin, Arkeolog Ahli Cagar Budaya dari Universitas Negeri Makassar, arkeolog dari National Arkeologi, Tenaga Pilot Drone dari Sulawesi Tengah dan juga masyarakat Morowali Utara.
Berkaca dari hal itu, berupa potensi cagar budaya, warisan budaya tak benda dan juga lanskap yang unik serta menarik, Teluk Tomori tentunya memiliki masa depan yang cerah untuk tetap terjaga dan lestari.
Upaya pelestarian cagar budaya dan warisan budaya tak benda yang saat ini dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Utara, perlu didukung bersama agar pemanfaatan dari situs-situs cagar budaya tersebut dapat disinergikan dengan pengembangan destinasi pariwisata Teluk Tomori.
Salah satu keunggulan dari situs-situs cagar budaya di Teluk Tomori ini yaitu aksesibilitas dan jarak tempuh dari ibukota Morowali Utara, yaitu Kota Kolonodale sangat dekat, jadi memudahkan wisatawan untuk mengunjunginya.
Masa depan Teluk Tomori adalah menjadikanya sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan yang berbasis pada potensi budaya baik itu cagar budaya dan warisan budaya tak benda, serta berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Oleh karena itu, kita bersama harus memastikan setiap gugusan karst dan pulau-pulau di kawasan Teluk Tomori tetap terlindungi, menjadi bukti jejak hunian prasejarah, peradaban masa lalu, serta menjadi tempat bagi keberlangsungan flora dan fauna yang menjadi bukti keanekaragaman hayati di Teluk Tomori, teluk yang indah dan mempesona. Memuliakan Teluk Tomori, Melestarikan Kebudayaan, Menyejahterakan Masyarakat.
Penulis : Dosen Departemen Arkeologi FIB dan Ketua Program Studi Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.