Di sebuah daerah pegunungan yang kaya akan tradisi dan nilai-nilai adat, masyarakat terus melestarikan mereka melalui ritual dan . Ritual ini bukan sekadar prosesi adat, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan kepada para dan permohonan perlindungan dari penyakit serta bencana.

Persiapan Ritual

Hari itu, Senin, 24 Februari, suasana di dipenuhi semangat dan kekhidmatan. Masyarakat adat, tua dan muda, berkumpul di dua lokasi sakral—tanah adat Poboya dan kawasan tambang emas PT CPM. Mereka datang dengan pakaian adat, membawa sesaji dan dedaunan khusus yang telah dipilih dengan teliti.

Ketua adat Poboya, Abadin Ripa, memimpin jalannya persiapan ritual Powemba, yang secara harfiah berarti penyiraman. Ritual ini dimaksudkan untuk membersihkan diri dari penyakit dan energi negatif.

Di atas tikar anyaman yang digelar di tanah, para tetua adat mencampurkan dedaunan yang memiliki aroma khas dan dianggap memiliki kekuatan penyembuhan. Di antara dedaunan itu terdapat daun pandan, kologigi, bunga putih, dan kondoranga—semuanya tumbuh subur di tanah Poboya dan dipercaya memiliki energi penyucian yang kuat.

Air jernih yang telah dicampur dengan daun-daun tersebut kemudian dituangkan ke dalam wadah besar. Satu per satu, warga dikumpulkan, kepala mereka dipercikkan air. Prosesi ini dilakukan oleh para tetua adat.

“Ini adalah pembersihan diri dari segala penyakit, baik penyakit yang terlihat maupun yang tidak,” ujar Abadin Ripa.

Masyarakat adat Poboya menggelar Ritual Powemba atau penyiraman

Prosesi : Simbol Kehidupan

Setelah ritual Powemba selesai, masyarakat kemudian bergerak menuju tempat lainnya, di mana prosesi Pompaura akan dilaksanakan, tepatnya dilokasi tambang emas PT CPM. Dimana warga berbondong-bondong melintasi bahkan masuk ke area pertambangan.

Anosi Yalihana, seorang Pila Adat Poboya, menjelaskan bahwa Pompaura merupakan ritual yang menandai keberlanjutan hidup dan keseimbangan alam.

Di lokasi tersebut, sebuah pohon bambu telah dipersiapkan sebelumnya. Di batangnya, tergantung ketupat, padi (Tompembangu), dan jagung—simbol utama kehidupan dan kemakmuran. Ketupat melambangkan persatuan, padi dan jagung melambangkan kesuburan serta keberlanjutan hidup.

Prosesi Pompaura ritual adat yang telah turun temurun dilakukan masyarakat Kelurahan Poboya

“Kami sudah melakukan ini sejak lama, bahkan sebelum ada tambang di sini. Ini adalah dari nenek moyang kami dan tidak ada hubungannya dengan aktivitas pertambangan,” kata Anosi Yalihana.

Yang menarik, di lokasi tersebut terdapat dua pohon kayu jawa besar yang telah berdiri sejak zaman dahulu. Kedua pohon ini dipercaya sebagai penanda dan tidak boleh ditebang. Keberadaan mereka menjadi saksi bisu dari ratusan tahun pelaksanaan ritual Pompaura di Poboya.

Makna dan Harapan di Balik Ritual

Sementara masyarakat mengikuti prosesi dengan penuh khidmat, Jatuh, seorang Pembina adat Poboya, memberikan penjelasan lebih dalam tentang makna ritual ini.

Sebelum melakukan Prosesi Pompaura yang dilaksanakan di lokasi tambang emas Poboya

“Kami percaya bahwa ritual ini menjauhkan penyakit dari wilayah kami. Bukan hanya penyakit yang menyerang tubuh, tapi juga penyakit hati,” ungkapnya.

Masyarakat adat Poboya menyadari bahwa perubahan zaman membawa banyak tantangan.

Namun, melalui ritual Powemba dan Pompaura, mereka tetap menjaga hubungan erat dengan alam dan leluhur.

Bagi mereka, adat bukan sekadar tradisi, tetapi sebuah jati diri yang harus dijaga agar tetap lestari.