.id- Petualangan ini dimulai dengan sebuah keingintahuan sederhana, menemukan puncak tanpa nama yang tersembunyi di antara jajaran perbukitan Kota .

Tidak tercantumnya nama pada peta digital justru memantik rasa penasaran dan semangat para pendaki. Rencana disusun rapi, dan waktu libur “May Day” dipilih sebagai momen ideal untuk memulai perjalanan.

Tepat pukul 19.00 WITA, setelah perjalanan panjang yang melewati jalur-jalur menanjak, ilalang tinggi, serta heningnya sore di wilayah Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, tim pun tiba di ketinggian 870 meter di atas permukaan laut. Puncak itu pun resmi dijuluki “Tanpa Nama” 870 mdpl.

Awalnya, perjalanan dimulai dari titik parkir yang disebut sebagai “pembibitan”. Tanpa tergesa mengejar sunset, pendakian dilakukan perlahan tapi pasti.

Jalurnya masih satu arah dengan Bulu Riapu, yang kini telah berganti nama menjadi Bulu Tanamorame 710 mdpl.

“Iyah masih satu jalur menuju Bulu Tanamorame. Iyah dari situ masih satu jam perjalanan, baru tembus puncak yang akan kita tuju,”ujar Aziz sembari melihat peta yang ada di handphone nya.

Aziz, sang pemimpin awal pendakian, menuntun dengan semangat. Ia tak lupa menunjuk spot-spot indah untuk berfoto, termasuk sebuah hamparan hijau yang berlatar Gunung.

Perjalanan berlanjut. Dua jam kemudian, tim mencapai Bulu Tanamorame dan beristirahat sejenak bersama pendaki lain yang sudah lebih dahulu tiba.

Sisa perjalanan dipimpin oleh Andreas. Ia bahkan membuka jalur dengan tangan sendiri, memperlebar jalan agar tim bisa melanjutkan ke puncak berikutnya.

Ketika mentari mulai menghilang di balik cakrawala dan pandangan semakin terbatas, Andreas akhirnya memberi isyarat bahwa mereka telah tiba. Di hadapan mereka, sebuah pohon besar berdiri sendiri, dikelilingi ilalang tinggi dan tenang.

Di sinilah, atas instruksi rombongan plakat sederhana akan dipasang sebagai penanda Puncak “Tanpa Nama” 870 MDPL.

Setelah membersihkan area, pemandangan indah tersaji di depan mata. Lampu-lampu Kota mulai menyala, seperti menyambut keberhasilan tim yang tak hanya mencapai puncak fisik, tetapi juga menemukan kembali esensi petualangan, menyatu dengan alam dan rasa ingin tahu yang murni.