,.id- KEBERADAAN pertambangan di Pesisir -Donggala membawa dampak negatif bagi para petani di sekitarnya, salah satunya Rota, seorang petani muda di Salena, Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu.

yang ditimbulkan dari aktivitas pertambangan telah mencemari kebun milik Rota, membuatnya terancam gagal panen.

“Kalau ini berkepanjangan sangat bahaya, bukan hanya penyakit yang datang tetapi gagal panen juga menjadi ancaman di kemudian hari,” ungkap Rota dengan nada khawatir.

Rota menceritakan bahwa dirinya sering merasakan dampak dari debu galian C, seperti batuk-batuk dan sesak napas. Hal ini tentu saja mengganggu kesehatannya dan keluarganya.

Lebih parah lagi, debu tersebut juga menimpa kebun jagungnya, menyebabkan daun menjadi kering dan layu.

“Dulu jagung saya tumbuh subur, tapi sekarang banyak yang mati. Saya khawatir panen nanti tidak maksimal,” kata Rota dengan raut muka sedih.

Kegagalan panen akan berakibat fatal bagi Rota dan keluarganya. Sebagai petani, jagung merupakan sumber penghasilan utama mereka. Tanpa panen yang melimpah, Rota akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Rota mendesak pemerintah dan perusahaan pertambangan untuk mengambil langkah tegas dalam mengatasi masalah ini.

“Saya selaku warga Salena yang punya kebun kemiri, ubi, jagung berharap agar pemerintah perhatikan kondisi kami saat ini,” ungkapnya.

Selain jagung, Rota juga mengungkapkan bahwa kebun kemiri di Salena juga terdampak oleh debu galian C.

“Dulu warga Salena setiap Minggu panen hasil kemirinya. Setelah perusahaan berjalan lancar dan beroperasi debunya terbang ke kebun, sekarang kemiri di Salena banyak gagal panen,” kata Rota.

Rota berharap agar perusahaan dan pemerintah dapat mencari solusi yang baik untuk mengatasi masalah debu galian C ini.

“Kami selaku warga Salena berharap sama pihak perusahaan agar mencari solusi yang baik,” tutup Rota.