SIGI, TRUE STORY – Tahura Sulteng membuka dialog publik melalui sosialisasi dokumen rencana pengelolaan kawasan di Kabupaten Sigi pada Kamis, 19 Desember 2025, dengan melibatkan masyarakat dan komunitas sekitar.
Kegiatan sosialisasi rencana pengelolaan Tahura Sulteng tersebut menghadirkan 57 peserta yang berasal dari unsur masyarakat dan komunitas yang selama ini berinteraksi langsung dengan kawasan konservasi. Melalui forum ini, pengelola kawasan mendorong pemahaman bersama terkait arah, strategi, dan tujuan pengelolaan jangka panjang.
Selain itu, sosialisasi ini membuka ruang dialog antara pengelola Tahura Sulteng, akademisi, dan masyarakat. Pendekatan partisipatif ini bertujuan agar dokumen perencanaan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga relevan dengan kondisi sosial dan lingkungan di lapangan.
Kepala UPTD Tahura Sulteng, Edhy Sitorus, menyampaikan pemaparan mengenai visi, kebijakan, serta tantangan pengelolaan kawasan ke depan. Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas pihak menjadi kunci keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi.
“Tahura tidak bisa dikelola sendiri oleh pemerintah. Keterlibatan aktif masyarakat, komunitas, akademisi, dan pemangku kepentingan sangat dibutuhkan,” kata Edhy Sitorus, Kepala UPTD Tahura Sulteng.
Lebih lanjut, Edhy menjelaskan bahwa Tahura Sulteng mengusung visi mewujudkan taman hutan raya sebagai kawasan koleksi flora dan fauna andalan sekaligus kebanggaan masyarakat Sulawesi Tengah. Visi tersebut menjadi dasar pengelolaan kawasan sebagai ruang konservasi, pendidikan lingkungan, penelitian, dan wisata alam berbasis kelestarian.
Sementara itu, perspektif akademik disampaikan oleh Dr. Sudirman Dg. Massiri, Dosen Kehutanan Universitas Tadulako. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan data dalam perencanaan pengelolaan kawasan hutan.
Kemudian, Sudirman memaparkan tiga pilar strategis pengelolaan Tahura Sulteng, yaitu fondasi tata kelola yang kokoh, ekosistem yang sehat dan terlindungi, serta masyarakat yang berdaya dan sejahtera. Menurutnya, penguatan sinergi kebijakan lintas sektor dan integrasi kearifan lokal akan mendukung pengelolaan kawasan yang adaptif dan berkelanjutan.**