, TRUE STORY – Dalam sebuah diskusi santai dengan para jurnalis di Kota yang pernah menelusuri jejak Megalit di tiga lembah, yakni Behoa, Bada, dan Pekurehua, Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhannas, Mayor Jenderal Farid Makruf , mengangkat ke permukaan. ini menarik perhatiannya saat menjabat sebagai Komandan Korem 132/ dari tahun 2020 hingga 2021.

“Terkait Ketahanan Nasional, Tadulako adalah sosok yang patut diteladani,” ungkap Mayjen Farid Makruf. Ketertarikannya untuk mendalami sosok Tadulako bermula dari rasa penasarannya saat menjabat sebagai Komandan Korem. Pertanyaan yang diajukan kepada ratusan prajuritnya menghasilkan jawaban yang beragam.

“Saya bertanya kepada empat ratus prajurit saya, ada empat ratus juga jawaban,” kenangnya.

Keinginan untuk mengetahui secara pasti siapa Tadulako, yang namanya diabadikan sebagai nama Korem Tadulako dan Universitas Tadulako, mendorong Mayjen Farid Makruf untuk melakukan penelitian. Hasilnya dibukukan dengan judul “Tadulako”.

Tak berhenti di situ, Mayjen Farid Makruf bahkan melanjutkan pendidikan S3 di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tadulako dengan nomor stambuk B 103 22 104, dan menjadikan Tadulako sebagai topik disertasinya.

Penelitiannya berfokus pada “Analisis Sistem Budaya Ketadulakoan Dalam Perspektif Ketahanan Nasional”.

Sebagai bahan referensi sebelum ujian tertutup, Mayjen Farid Makruf berdiskusi dengan para jurnalis di Palu yang pernah mengikuti ekspedisi 1.000 Megalit.

Kisah Mayjen Farid Makruf ini menunjukkan dedikasi dan kegigihannya dalam menggali sejarah dan budaya Tadulako. Upaya ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang sosok penting ini dan perannya dalam Ketahanan Nasional.