, TRUE STORY – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menyelenggarakan Workshop Kesenian/ Suku di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, yang dilaksanakan pada tanggal 10-12 Juni 2024, di Desa Lengkeka dan di lokasi Watu Molindo Padang Sepe.

Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan lama yang telah ada sejak zaman prasejarah, sekitar abad ke-12/13 sebelum Masehi, yang dihadiri Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan kebudayaan Poso Aris Bokilo sekaligus membuka acara dan di tutup oleh camat Lore Barat Gilber Kaose.

Menurut Yonathan Tokii S.Pt., Maestro Sastra Sulawesi Tengah dan anggota Lembaga Adat Rayon , Raigo memiliki beberapa fungsi penting dalam budaya Suku Bada . Pertama, Raigo digunakan untuk menjemput para surudado kemabli dari pertempuran (kamasao) membawa keberhasilan.

“Tradisi ini dilakukan di depan Duhunga dan dilanjutkan di Watu Palindo (Molindo) sebagai bentuk pemberitahuan bahwa mereka telah selamat dan berhasil dari pertempuran,”katanya, Sebagai juga sebagai ketua pelaksana Workshop.

Kedua, Raigo juga dijadikan sebagai kegiatan pemujaan untuk Pesta Kandang (Mowahe Boso). Ketiga, Raigo menjadi hiburan dan ucapan syukur atas panen yang berhasil (Ma,ande Pare Wo’u). Tradisi ini biasanya dilakukan di depan rumah atau Buho.

“Workshop ini diikuti oleh para pelaku seni dan budayawan dari Suku Bada Tampo Lore. Dalam workshop ini, para peserta mempelajari berbagai aspek , seperti gerakan tari, musik pengiring, dan makna di balik tradisi ini,”ujar Yonathan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan Kesenian Raigo Suku Bada Tampo Lore dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda.

“Kesenian Raigo merupakan bagian penting dari budaya Suku Bada Tampo Lore dan menjadi identitas mereka yang harus dijaga,”terang Yonathan.

Yonathan Tokii Asli Suku Bada sangat serius kambali mengaktifkan kegiatan Raigo di Sulawesi Tengah karena Raigo ini merupakan kegiatan yang di lestarikan kembali.

Menurut Ketua Dewan kesenian Sulawesi Tengah Hapri Ika Poigi, menyampaikan bahwa Raigo di Suku Bada merupakan sangat sakral dan tua Karna memiliki syair pantun dari bahasa Pujaan leluhur yang tidak memiliki ragam mereka hanya mengunakan warna suara itu sendiri.

“Raigo di Sulawesi Tengah ada di Suku Bada Napu, Behoa Rampi, Kulawi, Kaili, Pamona bahkan masih ada yang lain,”katanya.

Sementara, Kepala balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 18 yang diwakili, Abdul Kahar Safutra menyampaikan ucapan terima kasih atas antusias dan semangat para seniman Tampo Lore menerima kegiatan ini. ” Semoga kedepan Raigo bisa di tampilkan pada acara-acara berikutnya,”tambahnya.

Tentang Kesenian Raigo

Kesenian Raigo adalah tarian tradisional yang berasal dari Suku Bada Tampo Lore di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tarian ini biasanya ditampilkan dalam berbagai acara adat, seperti Pesta Kandang (Mowahe Boso) dan Ma,ande Pare Wo’u. Raigo menggunakan busana kulit Kayu (Mapewe).

Tari Raigo memiliki makna yang mendalam bagi Suku Bada Tampo Lore. Tarian ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur, rasa syukur atas panen yang berhasil, dan ungkapan kegembiraan atas kemenangan dalam pertempuran.

Kesenian Raigo memiliki nilai budaya yang tinggi dan perlu dilestarikan. Tradisi ini merupakan bagian penting dari identitas Suku Bada Tampo Lore dan menjadi warisan budaya yang harus dijaga.