, TRUE STORY – Jurnalis Wanita (JUWITA) menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi di Balai RW 05, Kecamatan Mantikulore, , Sabtu malam (2/5/2026).

Kegiatan ini diikuti ratusan orang yang terdiri dari jurnalis, mahasiswa dari berbagai universitas, serta masyarakat umum. Nobar tersebut tidak hanya menjadi ruang apresiasi film, tetapi juga wadah refleksi terhadap berbagai persoalan sosial yang diangkat dalam film, khususnya terkait Papua.

Diskusi yang menyertai pemutaran film dipandu oleh Moderator Yardin Hasan (Founder Roemah Kata), dengan menghadirkan tiga pematik, yakni Lian Gogali, Aktivis perempuan dan perdamaian, pendiri Mosintuwu Institute, Ansar Saleh Akademisi Universitas Tadulako (Untad) , serta Cristian Taibo, warga Desa Watutau yang merupakan korban kebijakan Bank Tanah.

Dalam diskusi, para narasumber menyoroti bahwa realitas yang terjadi di Papua sesungguhnya memiliki kemiripan dengan kondisi di . Salah satu isu yang mengemuka adalah pengambilalihan lahan masyarakat adat oleh negara maupun korporasi, termasuk dalam skema Bank Tanah.

“Apa yang terjadi di Papua bukan sesuatu yang jauh dari kita. Di , praktik-praktik perampasan ruang hidup masyarakat adat juga terjadi, termasuk di wilayah-wilayah yang kini menjadi sasaran investasi,” ungkap salah satu pematik dalam diskusi.

Pembahasan juga mengerucut pada dampak masuknya perusahaan di sejumlah wilayah, khususnya di Kabupaten . Kehadiran investasi dinilai membawa konsekuensi terhadap ruang hidup masyarakat, mulai dari konflik lahan hingga perubahan sosial di tingkat lokal.

Cristian Taibo, sebagai warga terdampak, menceritakan langsung pengalaman masyarakat Desa Watutau yang harus berhadapan dengan kebijakan negara terkait penguasaan lahan. Ia menegaskan bahwa perjuangan masyarakat bukan semata soal tanah, tetapi juga mempertahankan identitas dan keberlanjutan hidup.

Lian Gogali Mosintuwu Institute mengatakan film Pesta Babi menggambarkan tentang proses genosida kebudayaan yang terjadi di Papua maupun di daerah .

“Yang menarik adalah Dandy dan kawan-kawan mau mempertanyakan sikap kita yang ada di ,” kata Lian.

Sementara itu, Ketua JUWITA Kartini Nainggolan mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya jurnalis perempuan untuk menghadirkan ruang diskusi kritis di tengah masyarakat.

“Kami melihat film ini sebagai pintu masuk untuk membicarakan isu-isu yang lebih luas, terutama soal keadilan bagi masyarakat adat. Apa yang terjadi di Papua memiliki irisan kuat dengan kondisi di daerah kita, termasuk di Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa jurnalis memiliki peran penting dalam mengangkat suara-suara masyarakat yang kerap terpinggirkan, sekaligus mendorong kesadaran publik terhadap berbagai persoalan struktural yang terjadi.

Film ‘Pesta Babi’ adalah dokumenter tentang kondisi masyarakat adat di Provinsi Papua Selatan yang tengah berhadapan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) atas nama ketahanan pangan dan energi, film yang diproduksi oleh Watch Doc ini merupakan karya sutradara Dandhy D Laksono bersama Cypri Dale.

Di akhir kegiatan, JUWITA juga menggalang bantuan melalui tiket sukarela bagi pengungsi Papua. Dari hasil pengumpulan tersebut, dana yang terkumpul mencapai Rp550.000.