Truestory.id- Tim dari Universitas Gadjah Mada () bersama sejumlah ahli internasional memulai sebuah perjalanan epik dalam ekspedisi bertajuk “Internasional Series 1″ pada bulan Agustus 2024.

Ekspedisi ini menjadi sorotan karena mengungkap kekayaan geologi yang masih tersembunyi di Kepulauan , sebuah wilayah yang jarang tersentuh oleh para ilmuwan.

Dengan fokus pada eksplorasi , ekspedisi ini diharapkan dapat membuka wawasan baru tentang potensi geologi di yang selama ini belum banyak diketahui.

Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc., Ph.D., dosen Magister Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan sekaligus koordinator ekspedisi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Push Conference, sebuah inisiatif akademik dari UGM yang berfokus pada studi .

Hendrie menegaskan pentingnya ekspedisi ini sebagai langkah awal dari serangkaian penelitian yang akan dilakukan secara kolaboratif oleh para dari berbagai negara.

“Ekspedisi ini tidak hanya bertujuan untuk mengeksplorasi, tetapi juga untuk menjalin kerja sama internasional dalam penelitian yang lebih mendalam,” ujarnya, dilansir dari Krjogja.com

Tim peneliti yang terlibat dalam ekspedisi ini terdiri dari berbagai ahli dari dalam dan luar negeri, termasuk Dr.Eng. Ir. Didit Hadi Barianto, S.T., M.Si., pakar geologi dari UGM.

Selain itu, tim ini juga diperkuat oleh beberapa ahli geohidrologi internasional seperti Todd Kincaid dari Amerika Serikat, Mathias Nicoud dan Julie Coulumb dari Prancis, serta sejumlah peserta dari Malaysia seperti Md Rosman bin Md Haniffah, Lee Kian Lie, dan Foong Chin Hing.

Dari , hadir juga Catrapatti Raditya dan Juswono Budisetiawan dari Sainsreka Explorasia (SRX), serta Dimas Dwi Septian dan Aries Dwi Siswanto dari Kelompok Studi Karst Geografi UGM.

Keindahan Karst yang Tersembunyi

Eksplorasi ini menjangkau tiga wilayah utama: Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Banggai Laut. Ketiga daerah ini dikenal memiliki formasi karst yang unik, termasuk gua-gua yang tersembunyi, sungai bawah tanah, dan mata air yang langsung bermuara di laut.

“Penemuan gua-gua yang tersembunyi di balik karst ini merupakan daya tarik utama yang membuat kami tertarik untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut,” ungkap Catrapatti Raditya, Lead Operation Officer dari SRX.

Salah satu penemuan paling menarik dalam ekspedisi ini adalah Gua Udang Maote, sebuah gua yang menyimpan fenomena alam luar biasa yang disebut sebagai “White Rain” atau hujan putih.

Fenomena ini terjadi ketika para penyelam memasuki gua dan merasakan tetesan air putih yang tampak seperti hujan. Nama “Udang Maote” sendiri diberikan setelah tim berdiskusi dengan masyarakat setempat yang memberikan informasi mengenai keunikan gua ini.

Tantangan Eksplorasi Karst

Ekspedisi ini menghadapi tantangan besar, terutama karena formasi karst di Kepulauan Banggai berbeda dari wilayah lain seperti Kalimantan.

Jika di Kalimantan karstnya menjulang tinggi di atas permukaan tanah, di Banggai karstnya tersembunyi di bawah permukaan tanah dan laut, membuat eksplorasi menjadi lebih menantang.

“Eksplorasi ini memerlukan keterampilan khusus seperti cave diving, yaitu penyelaman di ruang tertutup yang sangat berbeda dari penyelaman di laut terbuka,” jelas Juswono Budisetiawan dari SRX.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi tim adalah eksplorasi cenote, yaitu lubang besar dengan danau di dalamnya, yang ditemukan di Kepulauan Banggai dengan kedalaman mencapai 33 meter dari permukaan air.

“Kedalaman ini menambah kerumitan dalam proses penyelaman, karena peralatan khusus diperlukan, dan penyelam harus ditarik ke permukaan untuk mengurangi beban saat kembali ke atas,” tambah Juswono.

Dalam salah satu gua karst yang dieksplorasi, tim menemukan fenomena yang mengejutkan, yaitu lapisan H2S (hidrogen sulfida) yang sangat tebal, jauh melebihi ketebalan biasa yang hanya sekitar 2 meter.

Pada kedalaman sekitar 20 meter, lapisan H2S ini berinteraksi dengan oksigen dalam air, membentuk asam sulfat yang sangat korosif. Namun, yang lebih mengejutkan lagi adalah penemuan spesies udang yang berenang di atas lapisan H2S ini.

“Udang-udang ini diduga memiliki kemampuan khusus untuk mentolerir H2S, memanfaatkan lingkungan ekstrem ini untuk mencari makanan yang tidak bisa diakses oleh makhluk lain,” kata Juswono.

Kolaborasi untuk Penelitian Lanjutan

Penemuan-penemuan dalam ekspedisi ini membuka peluang besar untuk penelitian lanjutan, tidak hanya dalam konteks geologi tetapi juga biologi dan ekologi.

Kehadiran mikroba baru dan spesies yang mampu bertahan dalam kondisi ekstrem menambah kompleksitas ekosistem karst di Kepulauan Banggai, menjadikannya sebagai laboratorium alami yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan.

Ekspedisi Internasional Banggai Series 1 ini bukan hanya menjadi tonggak penting dalam eksplorasi geologi di Indonesia, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi internasional dalam penelitian ilmiah.

Dengan ditemukannya berbagai fenomena unik dan mikroba baru, ekspedisi ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi penelitian-penelitian lanjutan yang akan menggali lebih dalam potensi karst di Indonesia dan kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan global.

“Ini baru permulaan,” tutup Drs. Hendrie Adji Kusworo, “masih banyak yang harus kita pelajari dari karst di Kepulauan Banggai ini.”