,.id – Kebijakan pengalihan arus lalu lintas oleh ESSA melalui PT Panca Amara Utama (PAU) menuai kecaman dari berbagai pihak. Selain dinilai mengganggu aktivitas , jalur alternatif yang disiapkan juga dianggap membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Di lapangan, kondisi jalur pengalihan dilaporkan memprihatinkan. Sejumlah titik mengalami longsor hingga menyisakan badan jalan sempit, bahkan hanya sekitar satu meter.

Situasi ini memaksa kendaraan melintas bergantian dengan risiko tinggi, terutama bagi kendaraan roda empat.

Tak hanya itu, ditemukan pula rongga di bawah permukaan jalan yang berpotensi ambruk sewaktu-waktu. Kondisi tersebut diperparah oleh intensitas hujan yang masih tinggi, sehingga meningkatkan ancaman kerusakan jalan.

Jaringan Advokasi Rakyat Lingkar Industri (JARRI) , Raswin Baka, SH, MH, menilai kondisi ini sebagai bentuk kelalaian serius.

β€œIni bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menyangkut nyawa manusia. Jalan rusak parah namun tetap dipaksakan dilalui, itu bentuk pengabaian keselamatan publik,” tegasnya.

Menurut Raswin, perusahaan bersama instansi terkait seharusnya memastikan kelayakan jalur sebelum menerapkan pengalihan arus. Ia menilai kebijakan tersebut terkesan terburu-buru tanpa kajian risiko yang matang.

Risiko juga meningkat pada malam hari akibat minimnya penerangan. Beberapa titik bahkan tidak memiliki lampu jalan, sehingga pengendara harus ekstra waspada saat melintas di jalur sempit dan licin.

Selain keselamatan, dampak ekonomi juga dirasakan . Pengalihan arus sejauh sekitar 12 kilometer membuat biaya operasional meningkat dan waktu tempuh menjadi lebih lama.

JARRI mendesak pemerintah daerah segera mengevaluasi kebijakan tersebut dan memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama.