Truestory.id – Ratusan warga dan para tetua adat memadati Banua Mpogombo di Desa Peura, Kecamatan Pamona Pusulemba, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah untuk mengikuti pembukaan Festival Tradisi Kehidupan 2023.
Festival Tradisi Kehidupan bertujuan untuk menjaga dan melestatikan kearifan likal dan nilai-nilai adat.
Sejarah Desa Peura
Pembukaan Festival Tradisi Kehidupan 2023 dibuka dengan dua kali pemutaran film masing-masing berdurasi 17 menit. Film pertama tentang sejarah Desa Peura dan film tentang kehidupan sehari hari warga desa.
Sejumlah tokoh tampil memberikan testimoninya pada pembukaan festival itu.
Alex Salua yang merupakan Kepala Desa Salua periode 2003-2008, pada testimoni yang disampaikan dalam bahasa Pamona, mengatakan, dipilihnya Desa Peura sebagai tuan rumah perhelatan Festival Kehidupan yang pertama bukan tanpa alasan.
Menurutya Desa Peura berasal dari kata Meuranaka yang berarti bergeser. Kata ini kemudian mengalami perubahan menjadi Meura pada 18 Oktober 1898 pascahadirnya Hindia Belanda Meura, lalu berubah menjadi Peura yang kemudian diabadikan menjadi nama desa.
Mempertahankan Bahasa Ibu
Testimoni lainnya disampaikan Fera Nindaya Mosero warga Peura. Fera yang tak fasih berbahasa Pamona menyampaikan testimoninya dalam bahasa Indonesia.
“Tadi siang saya antar dua warga Swiss ke sawah. Di sana mereka ikut bekerja seperti halnya warga biasa,” katanya.
Warga Swiss itu, tambah Fera ikut merasa kehidupan warga desa, menurutnya sesuatu yang tak pernah mereka rasakan di negaranya.
“Dorang ikut pikul padi seperti warga biasa,” ujarnya.
Umumnya, testimoni yang disampaikan para tetua adat adalah meminta warga penutur Bahasa Pamona di Poso agar tidak mengabaikan bahasa ibu mereka.
“Jika bahasa sudah dilupakan maka budaya lainnya akan ikut lupa,” ungkap Ngkai Modjanggo.
Kekuatan Tetua Adat
Lian Gogali dari Mosintuwu Institut yang mendukung kegiatan tersebut, menjelaskan tujuan festival tradisi kehidupan adalah membangun jaringan antar totua adat Pamona di Kabupaten Poso.
Kemudian berbagi informasi dan pengetahuan serta pengalaman tentang Ada Pombetirinai serta menyusun dan merencanakan upaya untuk menjaga dan melestarikan kearifan lokal dalam Pombetirinai.
Tujuan terakhir adalah menginternalisasi nilai-nilai Ada Pombetirinai.
Merawat Ingatan Sejarah Desa
Lian mengatakan, festival dimulai dengan kehadiran para tetua adat dan seluruh warga Desa Peura di balai desa untuk mengikuti film pendek tentang Desa Peura.
Mereka mendengarkan cerita tentang sejarah Desa Peura serta pernak pernik mengenai Desa Peura.
Kegiatan ini menurut dia menjadi bagian dari Festival Tradisi Kehidupan sebagai proses internalisasi sejarah desa Peura kepada masyarakat desa, terutama generasi muda agar tidak melupakan akar dan sejarah desanya.
”Para Pomatua Ada dari luar desa diajak untuk ikut menjaga sejarah desa dan meneruskannya agar bisa menjaga keberlanjutan tradisi kehidupan yang ada di desa masing-masing,” kata Lian.
Diskusi dan Kesenian Tradisi
Pada 8 Juni 2023, festival akan disi dengan diskusi kelompok Ada Pombetirinai serta bagaimana memahamo Ada Pombetirinai. Festival akan berakhir sore hari ditutup dengan kesenian tradisi Desa Peura, seperti Moende, Molaolita, Mobolingoni serta Kayori.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.