Sejumlah dari Institut Teknologi Bandung () diterjunkan untuk menyelidiki penyebab kerusakan puluhan rumah warga di Desa Sulewana, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten . Selama dua hari, 18–19 November 2025, tim pakar melakukan pengambilan sampel dan penelitian intensif di lokasi yang selama ini menjadi sorotan karena kerusakan rumah yang terus berulang.

Sebelum turun ke lapangan, tim yang terdiri dari Dr. Teguh Purnama Sidiq (Ahli Geodesi), Dr. Rendy Dwi Kartiko (Ahli Geologi), dan Inzagi Suhendar (Asisten Ahli) sempat berdialog dengan pemerintah desa.

Dalam pertemuan itu, Dr. Teguh menegaskan bahwa misi mereka murni akademik.
“Kami hadir untuk mencari kebenaran, bukan pembenaran. Tidak ada kepentingan selain fakta ilmiah,” ujarnya.

Penelitian Lapangan: 28 Rumah Disasar, Getaran PLTA Direkam di 9 Titik

Hari kedua menjadi sesi paling melelahkan. Tim bekerja maraton mulai pukul 10.00 hingga 17.15 Wita. Dr. Teguh melakukan pengukuran geodesi untuk memastikan apakah keretakan rumah berkaitan dengan pergerakan tanah maupun aktivitas .

Dr. Rendy menelusuri langsung 28 rumah rusak, mewawancarai pemilik, mencatat setiap , hingga menelusuri kondisi batuan dan tanah di kebun warga.

Ia sempat berbincang dengan Malvin Baduga, pemilik rumah yang amblas kembali hingga 40 cm setelah sebelumnya diperbaiki.

Warga lain, Novi Badjadji, turut menyampaikan kecemasan. “Dulu tanah di sini solid. Sekarang tiap hujan kami takut runtuh,” ujarnya.

Sementara itu, Inzagi merekam getaran di 9 titik—5 di permukiman, 4 di area PLTA 1 dan 2—untuk mengukur potensi pengaruh operasional PLTA terhadap struktur tanah.

Poso Energy Membantah, Satgas PKA Cecar Warga dan Perusahaan

Di sisi lain, PT Poso Energy tetap bersikeras bahwa kerusakan rumah tidak disebabkan PLTA. Mereka mengklaim debit air yang dilepaskan jauh di bawah batas regulasi.

Namun dalam dialog di lapangan, Ketua Satgas PKA Eva Susanti Bande menelusuri informasi berbeda.

Ia memojokkan salah satu warga, Dimas Tenggeli, untuk menjawab jujur soal apakah pernah menerima bantuan perusahaan. Dimas akhirnya mengaku pernah mendapat Rp10 juta untuk memperbaiki lantai rumah—yang kembali amblas.

“Ini bukti masalahnya belum selesai. Tanggung jawab perusahaan tidak berhenti di gerbang powerhouse, tapi sampai ke pintu rumah warga,”tegas Eva melalui release resmi Satgas PKA .

Ia menambahkan bahwa perusahaan harus menunjukkan langkah humanis sebelum bicara teknis.

Langkah Lanjutan: Pengeboran 20 Meter Menanti

Tim ITB akan kembali bersama gelombang kedua peneliti untuk melakukan pengeboran inti hingga kedalaman 20 meter demi memperoleh data geoteknik lebih lengkap. Langkah ini diharapkan dapat menjawab penyebab utama ketidakstabilan tanah di Sulewana.

Satgas PKA menegaskan akan terus mengawal proses ilmiah ini hingga tuntas, memastikan tidak ada warga yang kembali menjadi korban.