Banggai,truestory.id- Pantauan di lokasi menunjukkan antrean kendaraan mengular dari dua arah. Tidak hanya di ruas jalan utama, kepadatan lalu lintas juga terjadi di beberapa jalur alternatif yang digunakan pengendara setelah petugas melakukan pengalihan arus untuk mengurangi dampak kemacetan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, aksi penutupan jalan dilakukan sebagai bentuk protes masyarakat terhadap penanganan kasus dugaan penganiayaan yang dinilai berjalan lambat. Warga menuntut kepastian hukum dan meminta aparat kepolisian segera menuntaskan perkara yang saat ini masih dalam proses penyelidikan.
Kekecewaan masyarakat muncul karena mereka menilai belum ada perkembangan signifikan terkait penanganan kasus tersebut. Kondisi itu kemudian memicu aksi blokade jalan sebagai bentuk tekanan agar proses hukum mendapat perhatian lebih serius.
Sejumlah personel kepolisian diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pengamanan sekaligus mengatur arus lalu lintas. Petugas juga berupaya mengurai kemacetan yang terjadi agar aktivitas masyarakat dan distribusi barang tidak terganggu lebih lama.
Selain melakukan pengamanan, aparat kepolisian terus menjalin komunikasi dan mediasi dengan warga yang melakukan aksi. Langkah tersebut dilakukan untuk mencari solusi atas tuntutan masyarakat sekaligus membuka kembali akses jalan yang menjadi jalur vital transportasi di wilayah tersebut.
Hingga sore hari, situasi di lokasi masih dipadati kendaraan. Warga dan aparat kepolisian terus berdialog guna mencapai kesepahaman sehingga arus lalu lintas di jalur Trans Sulawesi dapat kembali normal dan aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa.