POSO, TRUE STORY – Masyarakat Desa Bomba Kecamatan Lore Selatan, Lembah Bada, Kabupaten Poso menangkap ikan dengan alat tradisional, kegiatan ini sudah menjadi turun-temurun masyarakat Poso yang disebut dengan tradisi Mohango atau Mosango, Rabu (11/10/2023) dua nama yang berbeda penyebutan tradisi ini yaitu Mohango dan Mosango, tetapi intinya adalah sama yaitu mencari ikan dengan alat tradisional yang disebut Hango atau Sango.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba, saat matahari bersinar dengan terang-terang nya, di sebuah kolam berukuran besar itulah masyarakat menangkap ikan menggunakan alat yang terbuat dari batang bambu tipis berbentuk kerucut.
Penggunan alat ini juga terbilang mudah, dengan menggerakannya penuh kesabaran, warga mengangkat alat tersebut perlahan dan membenamkannya dalam air dengan tenang.
Saat kerucut bambu mulai bergerak dan berggetar, itulah saat yang ditunggu-tunggu, karena itu tanda ikan telah masuk ke dalam perangkap yang sederhana ini. Dengan hati-hati, tangan mereka merunduk dan menyelipkannya ke dalam lobang kecil di atas alat itu.
“Iyah, dapat,” teriakan seorang anak muda Desa Bomba, bernama Delon, sambil menunjukan hasil tangkapan ikan emas berukuran kurang lebih dua kilo-an itu.
Usai berhasil mendapatkan seekor ikan emas, Delon akhirnya mentas dari kolam untuk menaruh ikannya ke dalam tas selempang yang dibuat dari sebuah karung goni. Ia juga berbagi pengalaman menangkap ikan menggunakan alat ini kepada tim Truestory.id.
“Sejak kecil saya sudah mengenal alat ini, saat itu ayah saya mengajariku bagaimana cara menggunakan alat ini, karena alat ini mudah dan sangat efektif digunakan untuk mendapatkan ikan,”katanya.
Ia bahkan mengetahui alat yang digunakan ini sudah menjadi tradisi turun-temurun untuk menangkap ikan, selain itu keseruan saat Mohango adalah kebersamaan warga, karena disini warga harus bersama-sama menangkap ikan dan tidak ada saling rebut. “Jadi kami saling membantu,”ujar Delon.
Delon pun tidak bisa banyak menceritakan keseruannya menangkap ikan dengan Hango, karena matahari makin ceria tepat diatas kepala, membuat dirinya harus beristirahat, karena keesokan harinya ia harus mengikuti acara Padungku.
“Ia Tradisi ini juga sebagai persiapan menyambut perayaan “Maande Pare Wo’u” atau Makan Padi Baru yang di Suku Pamona Poso dirayakan sebagai hari perayaan Padungku,”tutup Delon.
Pemandangan ini menjadi suatu kegembiraan bagi seorang pengunjung di wilayah Bada, Poso, asal Kabupaten Banggai, Rahmat Aziz, dirinya tidak menduga bisa mendapatkan momentum ini, sebab kegiatan seperti ini hanya bisa dilihat di Kabupaten Poso. “Iyah senang sekali bisa lihat tradisi ini, karena sangat seru dan menarik liat warga ramai-ramai mencari ikan di satu kolam,”terangnya, semabri mengabadikan momen dengan ponselnya.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.