Palu,truestory.id – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, distribusi sapi asal Sulawesi Tengah menuju sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan mengalami peningkatan tajam. Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Tengah mencatat pengiriman ternak mencapai 1.815 ekor selama April hingga pertengahan Mei 2026.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Tengah, Ahmad Mansuri Alfian mengatakan, lonjakan permintaan sapi kurban membuat distribusi ternak meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan periode normal.
“Jumlah itu diperkirakan mencapai sekitar 1.000 ekor per bulan,” ujarnya saat ditemui di Palu, Kamis (14/5).
Menurut Ahmad, pada hari biasa distribusi sapi dari Sulawesi Tengah hanya berkisar 100 ekor per bulan.
Tingginya kebutuhan menjelang Idul Adha membuat pengawasan lalu lintas ternak di pelabuhan diperketat guna mencegah penyebaran penyakit hewan menular.
Setiap ternak yang akan dikirim, kata dia, wajib menjalani proses karantina di instalasi karantina hewan melalui masa observasi maksimal tiga hari.
Selain itu, sapi yang akan dilalulintaskan harus dipastikan dalam kondisi sehat dan telah menerima vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) sebanyak dua kali.
“Kami melakukan tindakan karantina terhadap ternak yang akan dilalulintaskan melalui instalasi karantina hewan dengan masa observasi maksimal tiga hari,” katanya.
Petugas karantina juga melakukan uji laboratorium untuk mendeteksi sejumlah penyakit hewan menular seperti PMK, bruselosis, dan trypanosoma sebelum ternak diberangkatkan ke daerah tujuan.
Selama pengawasan April hingga Mei 2026, Karantina Sulawesi Tengah menemukan tiga ekor sapi positif bruselosis dan satu ekor lainnya terindikasi penyakit kumonoma.
Terhadap ternak yang terpapar penyakit, dilakukan pemotongan bersyarat di rumah potong hewan sesuai ketentuan yang berlaku.
Ahmad menegaskan, pengawasan ketat terus dilakukan karena Sulawesi Tengah menjadi salah satu daerah pemasok utama sapi bagi wilayah Kalimantan menjelang Idul Adha.