Jakarta,truestory.id– Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) menggelar kegiatan Ngaji Jurnalistik bertema “Menjaga Etika, Kebenaran dan Nurani di Era AI” di Hall Dewan Pers, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Forum ini menjadi ruang refleksi bagi jurnalis televisi dalam menghadapi masifnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di industri media.
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menegaskan bahwa disrupsi teknologi merupakan keniscayaan yang harus dihadapi insan pers.
“Di tengah disrupsi pers harus survive, itu hukum alam,” kata Komaruddin.
Ia menekankan pentingnya etika sebagai fondasi utama jurnalisme. “Sebelum bicara kebenaran, etika lebih dulu,” katanya menambahkan.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Dahlan Dahi, Yunes Herawati, Heru Tjatur, serta Sekretaris Jenderal IJTI, Usmar Almarwan.
Mereka membahas tantangan menjaga nilai-nilai jurnalistik di tengah derasnya arus informasi berbasis algoritma.
Usmar menegaskan, teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti nurani manusia. “Teknologi, hanyalah alat. Ia bisa mempercepat kerja, tetapi tidak memiliki nurani. Jurnalisme adalah profesi berbasis nurani dan kebenaran,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan setiap informasi tetap menjunjung tinggi etika dan kebenaran.
Ia juga mengingatkan, pemanfaatan AI yang tak terkendali dapat membuat jurnalisme menjadi “dingin” dan kehilangan empati.
Nilai keberpihakan kepada kaum rentan serta integritas, kata dia, adalah ciri khas jurnalisme manusia yang tidak dimiliki AI.
Selain diskusi, IJTI turut menyalurkan santunan kepada 20 anak yatim dari As Suhaimiyah, Kebon Sirih, Jakarta. Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, mengatakan Ramadan menjadi momentum berbagi dan mempererat silaturahmi.
“Ramadan adalah momen istimewa untuk mempererat silaturahmi melalui tradisi berkumpul seperti buka puasa bersama,” pungkasnya.