Banggai,truestory.id – Polemik rekrutmen tenaga kerja di proyek PT Panca Amara Utama (PAU) terus menuai sorotan. Warga Kecamatan Nambo menilai proses penerimaan tenaga kerja berjalan tertutup dan minim informasi, sehingga berpotensi menghambat akses masyarakat lokal untuk bekerja di wilayahnya sendiri.
Keresahan ini mencuat seiring terbatasnya publikasi lowongan kerja dari vendor maupun kontraktor proyek. Kondisi tersebut dinilai menciptakan ruang informasi yang tidak merata, bahkan disebut menyerupai “pasar gelap” tenaga kerja karena hanya beredar di kalangan tertentu.
Ketua Karang Taruna Nambo, Ahyar A. Mokoagow, menegaskan bahwa situasi ini mencerminkan lemahnya transparansi dalam tata kelola rekrutmen.
“Yang terjadi sekarang bukan sekadar kurang koordinasi, tapi indikasi sistem yang tidak transparan. Informasi kerja seperti dikunci, hanya beredar di kelompok tertentu. Ini berbahaya,” ujarnya.
Menurut Ahyar, tanpa sistem terbuka dan terpusat, potensi praktik tidak sehat seperti nepotisme hingga pungutan liar sulit dikontrol. Dampaknya, pemuda lokal yang seharusnya mendapat prioritas justru terpinggirkan.
Ia juga menyoroti ketimpangan informasi antarwilayah. Di Kecamatan Batui dan Kintom, informasi rekrutmen dinilai lebih terbuka dibandingkan di Nambo.
“Kenapa di daerah lain bisa terbuka, tapi di Nambo justru gelap? Ini perlu penjelasan serius dari perusahaan,” tambahnya.
Sementara itu, pihak keamanan PT PAU melalui Ramlex menyatakan sosialisasi telah dilakukan, namun mekanisme rekrutmen sepenuhnya menjadi kewenangan vendor.
Karang Taruna Nambo mendesak perusahaan segera menerapkan sistem rekrutmen yang transparan dan terpusat, agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton di tengah aktivitas industri besar.