Laporan Truestory : Lia Abast
Sebuah rumah nampak dipenuhi dengan tumpukan sampah plastik.
Rumah itu milik Andriani, seorang ibu rumah tangga di Desa Tete B, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah. Sampah yang bertumpuk di rumahnya merupakan sampah yang dikumpulkan oleh warga.
Terhitung sudah dua bulan terakhir, ibu dua anak itu menjadikan rumahnya sebagai celengan sampah ecobrick.
Ekobrick adalah botol plastik yang diisi secara padat dengan sampah plastik.
Keinginan Andriani menjadikan rumahnya sebagai agen celengan sampah muncul karena rasa prihatin terhadap produksi sampah yang semakin bertambah di desanya.
Apalagi, Desa Tete B sudah ditetapkan sebagai desa wisata pada tahun 2021 oleh Pemerintah. Terdapat dua wisata unggul di desa tersebur, yakni Wisata Pasir Putih dan Wisata Uwe Butung.
“Apalagi sampah plastik, tidak hanya di darat tetapi di laut juga banyak makanya kami kumpulkan sampah yang di laut juga,” ucap Ani, sapaan akrabnya.

Untuk membantu mengumpulkan sampah plastik tersebut, ia menyasar anak-anak di desa. Bagi Ani peduli lingkungan sejak dini dianggap sangat penting.
Anak-anak yang datang ke rumah Ani untuk membawa ecobrick yang mereka kumpulkan tidak pulang dengan tangan kosong.
Ani, akan memberikan sejumlah hadiah berupa boneka, buku dan alat tulis.
“Ada sekitar 18 anak yang aktif datang tukar sampah plastik, sampah itu mereka dapat dari sekitar rumahnya dan sekolahnya,” tutur Ani.
Istri dari Andrianto ini menjelaskan, satu ecobrick berisi 600 ml akan ditimbang hingga beratnya mencapai 0,33 gram.
“10 botol yang masing-masing berisi 0,33 gram akan ditukarkan dengan dua buah buku tulis, satu pulpen dan satu pensil. Ada juga hadiah lainnya,” tutur Ani.
Ani, di Desa Tete B merupakan agen ketiga yang membuka agen celengan sampah ecobrick di Tojo Una-Una.
“Pusatnya di Ampana tetapi agennya ada tiga, satu di Pulau Una-una, Pulau Papan dan ketiga saya di Desa Wisata Tete B,” sebutnya.
Kata Ani, Ecobrick yang ia kelola bisa menghasilkan barang bermanfaat. Seperti kursi, meja hingga pagar rumah.
Bahkan ecobrick itu kata Ani bisa dijadikan sebagai pondasi rumah yang kokoh dan tahan lama.
“Asal berat celengan sampahnya itu sesuai yakni 0,33 gram untuk botol 600 ml dan sampahnya dalam botol harus benar-benar padat. Mungkin nanti akan kami uji coba,” ucapnya.
“Sekarang kita fokus untuk buat gerbang ecobrick di dua wisata ini. Intinya memang untuk saat ini masih pemenuhan di tempat wisata di desa kami,” tambahnya.
Ani membutuhkan waktu dua jam untuk bisa membuat sebuah kursi yang terbuat dari ecobrick.
“Sampah di Tete B ini banyak dan belum punya tempat pembuangan sampah yang bagus,” ucapnya.
Sudah banyak orang yang ingin membeli barang yang terbuat dari ecobrick. Namun, Ani enggan menjualnya dengan alasan kebutuhan wisata di daerahnya belum terpenuhi.
“Fokus kebutuhan desa dulu, mungkin ke depan akan libatkan ibu-ibu dan hadiahnya disesuaikan dengan kebutuhan,” kata Ani.
Harapan dan mimpi besar ani adalah membangun taman sampah di Desa Tete B.
“Ke depan kalau akan dijual yang pasti terpenuhi dulu kebutuhan desa, kalau mau dijual juga ya harus ditingkatkan kualitasnya,” ujarnya.
Cara Ani, menjadikan Desa Tete B bersih dari sampah plastik mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa setempat.
“Kita bangga punya warga yang sadar akan lingkungan dan semoga keinginan Ani bisa terwujud untuk membangun taman sampah,”
Ujar Kepada Desa Tete B, Abd Rasyid Hasyim.
Hal yang sama disampaikan pihak Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah. Keindahan dan keunikan wisata tak lepas dari peran masyarakat lokal.
“Termasuk ada celengan sampah ecrobick itu adalah hal yang membanggakan karena ada warga yang peduli untuk wisata dan kebersihan lingkungan,” jelas Kepala Bidang Pengembangan dan Pemasaran Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah, Nurhalis.
“Promosi kita adalah pariwisata berbasis kearifan lokal,” tambahnya.
Ide celengan sampah ini awalnya diinisiasi tahun 2020 oleh Indrawijaya warga di Kecamatan Ampana yang juga aktivis lingkungan di Tojo Una-una.
Indrawijaya menginisiasi aksi bersih-bersih pantai melalui program celengan sampah.
Mengutip data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, total sampah nasional pada 2021 mencapai 68,5 juta ton.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.